Sahabat dengan Alam, Pray For Sumatera: Dari Doa Menuju Aksi Nyata Penyelamatan Harta Karun Ekologis

  • by
kekayaan alam sumatera

Ketika duka beruntun melanda, saat puluhan nyawa melayang dan lebih dari 11 kabupaten di Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh porak-poranda oleh banjir bandang dan longsor, reaksi pertama yang muncul adalah doa dan seruan kepedulian: Kita semua berseru Pray For Sumatera. Namun, setelah gelombang empati dan bantuan logistik mereda, kita harus bertanya: Cukupkah sekadar berdoa, sementara hubungan kita dengan alam sudah lama berada dalam kondisi permusuhan? Seruan Pray For Sumatera harusnya dimaknai sebagai komitmen untuk kembali menjadi Sahabat dengan Alam.

Bencana Ekologis, Bukan Bencana Cuaca

Bencana yang kita saksikan bukanlah kebetulan meteorologis semata. Data memang menunjukkan curah hujan yang sangat tinggi, namun hujan ekstrem hanyalah pemicu, bukan akar masalah. Air bah yang turun dari perbukitan membawa bukti nyata: kayu-kayu gelondongan yang hanyut di tengah lumpur adalah saksi bisu atas kebobrokan tata kelola lahan dan praktik deforestasi yang brutal.

Bencana beruntun ini adalah cerminan dari kegagalan serius dalam menjaga Daerah Aliran Sungai (DAS) dan wilayah hulu yang kini beralih fungsi menjadi perkebunan monokultur, pertambangan, dan pemukiman tanpa kendali. Hutan yang seharusnya berfungsi sebagai spons alami penahan air kini hilang, menyebabkan air lari sebagai limpasan permukaan yang merusak. Sumatra saat ini tidak sedang menghadapi bencana alam, melainkan sedang memanen bencana ekologis yang dipupuk oleh kebijakan eksploitatif selama puluhan tahu

Harta Karun Farmasi Sumatra: Alasan Ekonomi untuk Konservasi

Ironisnya, setiap hektar hutan yang dihancurkan demi keuntungan sesaat, kita juga menghancurkan apotek raksasa dan laboratorium kosmetik alami yang menyimpan aset ekonomi dan kesehatan tak ternilai bagi masa depan.

Penelitian di berbagai wilayah Sumatra (termasuk Banyuasin, Humbang Hasundutan, dan kawasan Danau Toba) menunjukkan betapa kaya dan spesifiknya potensi herbal endemik:

Cemara Sumatera
Cemara Sumatera
  • Taxus Sumatra (Cemara Sumatera): Ditemukan di pegunungan Sumatra, spesies ini diketahui mengandung senyawa Taxol, bahan aktif yang sangat penting dan bernilai tinggi sebagai obat kemoterapi antikanker. Ironisnya, karena deforestasi masif, populasinya kian sulit ditemukan.
  • Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium): Tumbuhan endemik khas Sumatra Utara ini tidak hanya digunakan sebagai bumbu, tetapi minyak atsirinya memiliki aktivitas anti-mikroba dan fungisida kuat, menjadikannya kandidat penting untuk bahan pengawet alami dan kosmetik.
  • Macaranga spp. (Mahang): Penelitian menunjukkan bahwa beberapa jenis Macaranga memiliki potensi besar sebagai antikanker dan antidiabetes.
  • Mangrove: Di hutan mangrove seperti Taman Nasional Sembilang, masyarakat lokal menggunakan beberapa jenis seperti Ceriops tagal (untuk pelangsing dan pembersih luka) dan Acanthus ilicifolius (untuk obat bisul), membuktikan bahwa bahkan ekosistem pesisir pun menyimpan khasiat farmasi.

Keanekaragaman hayati ini adalah masa depan bagi industri Fitofarmaka Indonesia. Menjaga hutan bukan hanya mencegah banjir, tetapi juga mengamankan paten obat-obatan yang bisa membawa kemandirian kesehatan dan ekonomi.

Kayu Gelondongan sehabis banjir bandang

Memutus Rantai Bencana: Dari Doa Menuju Komitmen Struktural

Oleh karena itu, solusi yang dibutuhkan bukan hanya respons cepat pasca-bencana, tetapi evaluasi total dan tindakan struktural.

  1. Penegakan Hukum Tegas: Mendesak pihak kepolisian dan penegak hukum untuk mengusut tuntas siapa di balik kayu-kayu gelondongan tersebut, termasuk mencabut izin korporasi yang terbukti melanggar UU Lingkungan Hidup.
  2. Restorasi Ekologis yang Tepat: Upaya restorasi tidak boleh sekadar menanam pohon industri, tetapi fokus pada penanaman kembali jenis-jenis endemik dan tanaman obat-obatan. Ini adalah cara untuk mengembalikan fungsi hutan sebagai penyangga air sekaligus sumber ekonomi hijau.
  3. Revisi Tata Ruang Berbasis Daya Dukung: Mendesak pemerintah provinsi dan kabupaten untuk merevisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) agar berpihak pada keberlanjutan lingkungan, dengan menetapkan zona merah secara ketat dan melarang pembangunan di wilayah hulu yang rentan.
Bnajir di Sumatera
Banjir Si Sumatera

Pray For Sumatera adalah awal, namun Protect Sumatra adalah tanggung jawab abadi. Sumatra akan terus menjadi langganan bencana mematikan jika hutan dan ekosistemnya terus diperlakukan sebagai komoditas yang bisa dikorbankan. Berapa lagi korban jiwa dan kerugian material yang harus ditanggung sebelum kita benar-benar menyadari bahwa persahabatan dengan alam adalah satu-satunya jalan menuju keselamatan?